Rabu, 29 April 2009

Kebiasaan Bayi

Setiap tahapan perkembangan pastilah terdapat hal-hal yang baru dan akan dipelajari oleh si anak. Tetapi ada kalanya kebiasaan-kebiasaan ditahap perkembangan sebelumnya tidak bisa dilupakan masih terus terbawa. Misal kebiasaan-kebiasaan ketika bayi yang kerap dibawa hingga anak berusia lima tahun (batita). Ada beberapa kebiasaan yang masih dikategorikan normal, tetapi ada pula kebiasaan yang perlu diawasi. Sebagai perlu untuk mengamati dan memahami betul mana yang boleh dilakukan oleh anak dan yang tidak. Berhubung artikel ini agak panjang, artikelnya dibagi menjadi lima seri dan dipublish hari ini juga. Kita lanjutkan, kebiasaan bayi yang terbawa hingga batita tersebut antara lain:


1. Nge-Dot, Ngenyot Jari, Ngempeng
Menurut teori psikoseksual yang dikemukakan oleh Sigmund Freud, bayi sejak lahir hingga berusia 18 bulan, anak mendapatkan akan kepuasaan melalui fase oral. Kepuasan
itu didapat anak melalui sensasi di sekitar daerah mulutnya, bisa berupa aktivitas minum, makan, ngedot, ngempeng, ngenyot jari dan sebagainya. Hal ini merupakan hal yang wajar karena semua anak pastilah akan melewati tahapan yang satu ini. Bisa dikatakan tidak wajar jika setelah berusia 18 bulan, anak masih melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut.

Upaya pencegahan yang dapat dilakukan oleh orang tua agar anak tidak terus melakukan kebiasaan itu hingga selepas usia 18 bulan, antara lain dengan tidak membiasakan anak ngempeng dan ngenyot jari sejak bayi. Tetapi jika sudah telanjur terjadi, beberapa langkah
berikut ini dapat dilakukan.


  • Kenalkan si anak dengan cara minum menggunakan gelas.
  • Beri penjelasan bahwa kebiasaannya itu bisa berakibat buruk. Seperti dapat
    mengganggu pertumbuhan giginya, kuman bisa masuk ke dalam mulut jika tangannya tidak bersih dan
    sebagainya.
  • Mintalah agar anak memberikan dotnya kepada anak yang kurang mampu. Atau
    karena kondisi dot sudah rusak maka minta anak agar membuang sendiri dot-nya.
  • Alihkan perhatiannya kepada hal-hal lain yang bisa mendatangkan kepuasan
    baginya. Antara lain dengan cara memperkenalkannya pada beberapa jenis
    permainanan baru, bunyi-bunyian dan sebagainya.
  • Jika sudah diberi penjelasan tetapi anak masih saja melanjutkan kebiasaan
    ngenyot jari, orang tua bisa mengakalinya dengan memberikan sesuatu yang pahit
    di jarinya. Tetapi lakukan hal ini sebagai upaya terakhir orang tua agar anak
    tidak merasa “ditipu” oleh orang tuanya sendiri.

Beberapa dampak buruk yang akan muncul jika anak dibiarkan tetap melakukan kebiasaannya ini selain pertumbuhan gigi si anak yang tidak bagus, secara psikologis anak juga akan merasa kehilangan rasa aman (secure feeling) jika meninggalkan kebiasaan yang sudah berubah menjadi kebutuhan ini. Padahal jika terus terbawa hingga besar, bukan tidak mungkin dia akan menjadi bahan ejekan dari teman-temannya yang pada akhirnya juga akan berpengaruh pada pembentukan konsep dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar