Rabu, 08 April 2009

Rumor Tentang ASI

MENYUSUI MERUBAH BENTUK BUAH DADA WANITA
TIDAK BENAR Mitos atau pendapat yang mengatakan bahwa menyusui dapat mempengaruhi atau merubah bentuk payudara secara permanen. Sebenarnya yang merubah bentuk payudara adalah kehamilan, bukan menyusui. Kehamilan menyebabkan dikeluarkannya hormon-hormon dan menyebabkan terbentuknya air susu yang mengisi payudara. Payudara yang sudah terisi air susu tentu akan berbeda bentuknya dengan payudara yang belulm terisi oleh air susu. Jadi yang menyebabkan perubahan bentuk payudara adalah kehamilan bukan menyusuinya. Besarnya perubahan bentuk payudara sangat tergantung dari turunan (herediter), usia dan juga oleh penambahan berat badan pada waktu kehamilan.

MENYUSUI MENYEBABKAN KESUKARAN MENURUNKAN BERAT BADAN
TIDAK BENAR. Data membuktikan bahwa menyusui dapat membantu ibu menurunkan berat badan lebih cepat daripada yang tidak memberikan ASI secara ekslusif. Sebab dengan menyusui timbunan lemak yang terjadi pada waktu hamil akan dipergunakan dalam proses menyusui, sedangkan wanita yang tidak menyusui akan sukar menghilangkan timbunan lemak yang memang khsusus dipersiapkan oleh tubuh untuk menyusui ini.

ASI BELUM KELUAR PADA HARI-HARI PERTAMA SEHINGGA PERLU DITAMBAH SUSU BIASA
Pada hari pertama sebenarnya bayi belum memerlukan cairan atau makanan, sehingga tidak atau belum diperlukan pemberian susu formula ataupun cairan lain, sebelum ASI keluar "cukup" (Cairan Prelactal feeding). Bayi pada usia 30 menit harus disusukan pada ibunya, bukan untuk pemberian nutrisi, tetapi untuk belajar menyusui atau membiasakan menghisap puting susu dan juga guna mempersiapkan ibu untuk mulai memproduksi ASI. Gerakan reflek untuk menghisap pada bayi baru lahir akan mencapai puncaknya pada waktu berusai 20-30 menit, sehingga apabila terlambat menyusui, reflek ini akan berkurang dan tidak akan kuat lagi sampai beberapa jam kemudian.

Pemberian prelactal feeding sebetulnya tidak diperlukan karena hanya akan merugikan ibu, yaitu ASI ibu akan lebih lambat terbentuk karena bayi tidak cukup kuat menghisap, dan merugikan bayi sebab bayi akan kurang mendapat kolostrum. Bila bayi kurang atau tidak mendapat kolostrum, akan lebih sering menderita mencret atau penyakit lain, terutama bila susu formula atau cairan prelactal/lainnya tercemar. Selain itu, bila cairan prelactal diberikan dengan dot, kemungkinan bayi akan mengalami kesukaran minum pada puting susu ibunya atau bingung puting (nipple confusion).

IBU BEKERJA TIDAK DAPAT MEMBERIKAN ASI EKSLUSIF 6BULAN
TIDAK BENAR. Banyak ibu-ibu bekerja yang telah berhasil memberikan ASI ekslusif pada bayinya selama 6bulan. Bahkan ibu bekerja tidak memerlukan tambahan pada cuti hamil 3 bulannya untuk dapat tetap memberikan ASI ekslusif sampai 6 bulan. Pada ibu bekerja, cara lain untuk tetap dapat memberikan ASI ekslusif pada bayinya adalah dengan memberikan ASI peras atau perahnya pada bayi selama ibu bekerja. SElama ibu ditempat kerja, sebaiknya ASI diperah, minimum 4 X 15menit. Memerah ASI sebaiknya hanya menggunakan jari tangan, tidak menggunakan pompa yang berbentuk terompet. ASI perah tahan 6-8 jam di udara luar, 24 jam di dalam termos es berisi es batu, 48 jam dalam lemari es dan 3 bulan apabila berada dalam freezer. Dengan bantuan "Tempat Kerja Sayang Ibu", yaitu tempat kerja yang memungkinkan karyawati menyusui secara ekslusif, keberhasilan ibu bekerja untuk memberikan ASI ekslusif akan menjadi lebih besar lagi.

PAYUDARA SAYA KECIL TIDAK MENGHASILKAN CUKUP ASI
TIDAK BENAR. Besar kecilnya payudara tidak menentukan banyak atau sedikitnya produksi ASI, karena payudara yang besar hanya mengandung lebih banyak jaringan lemak dibandingkan dengan payudara yang kecil. ASI dibentuk oleh jaringan kelenjar pembentuk air susu (alveoli) dan bukan jaringan lemak. Jadi, besar kecilnya payudara tidak menentukan banyak sedikitnya produksi ASI.

ASI YANG PERTAMA KALI KELUAR HARUS DI BUANG KARENA KOTOR
ASI yang keluar pada hari 1 sampai dengan hari ke 5 s/d hari ke 7, dinamakan kolostrum, atau susu jolong. Cairan jernih kekuningan itu mengandung zat putih telur ata protein dalam kadar yang tinggi, zat anti infeksi atau zat daya tahan tubuh (immunoglobulin) dalam kadar yang lebih tinggi daripada susu mature, disamping itu juga mengandung laktosa atau hidrat arang dan lemak dalam kadar yang rendah sehingga mudah dicerna.

Volume kolostrum bervariasi antara 10 ccf - 100 ccf per hari. Volume yang rendah ini memberikan beban yang minimal bagi ginjal bayi yang belum amtang. Selain sebagai nutrisi kolostrum melindungi bayi terhadap penyakit-penyakit infeksi. Dalam penelitian, kolostrum terbukti sangat bermanfaat bagi bayi premature dan bayi sakit. Apabila kolostrum dibuang, maka bayi akan kurang atau tidak mendapatkan zat-zat pelindung terhadap penyakit infeksi. Tak dapat disangkal lagi bahwa kolostrum sangat berguna bagi bayi untuk melindunginya dari infeksi. Walaupun saat ini telah diketahui bahwa kolostrum sangat dibutuhkan oleh bayi, namun masih banyak praktek-praktek yang menyebabkan bayi kekurangan kolostrum yang kaya dengan nutrien berguna ini. Misalnya, antara lain, dengan masih memberikan prelactal feeding.

ASI IBU KURANG GIZI, KUALITASNYA TIDAK BAIK
Bayi dan ASI sebenarnya bersifat parasit bagi ibu. Sampai dengan batas keadaan tertentu, kualitas dan kuantitas ASI akan tetap dipertahankan, walaupun harus dengan mengorbankan gizi si ibu sendiri. Kualitas ASI baru berkurang apabila ibu menderita kekurangan gizi tingkat ke-3, bahkan sering kali kualitas ASI masih tetap dipertahankan sampai tingkat kekurangan gizi ibu lebih dari derajat ini.

"ASI SAYA TIDAK CUKUP", "ASI SAYA KERING", "BAYI TIDAK CUKUP DAPAT ASI KARENA RAKUS/ MINUMNYA BANYAK"
Dari sebuah penelitian didapatkan data bahwa 98 rbu dari 100 ribu ibu-ibu yang mengatakan produksi ASInya kurang, sebebarnya mempunyai cukup ASI, tetapi kurang mendapat informasi tentang manajemen laktasi yang benar, posisi menyusui yang tepat, serta terpengaruh mitos-mitos tentang menyusui, yang umumnya dapat menghambat produksi ASI. Umumnya apabila seorang bayi kurang mendapat ASI atau kurang minum, sebenarnya bukan ibunya yang tidak dapat memproduksi ASI sebanyak yang diperlukannya. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, misalnya karena posisi menyusui yang tidak benar. Posisi yang dimaksud di sini adalah posisi mulut bayi terhadap putting ibu, bukannya posisi badan bayi terhadap badan ibu. Produksi ASI dirangsang oleh pengosongan payudara, berlaku prinsip supply and demand, sehingga semakin banyak ASI dikeluarkan, maka akan semakin banyak pula ASI diproduksi. ASI diproduksi sesuai dengan jumlah permintaan dan kebutuhan bayi. Selama bayi masih melanjutkan permintaannya akan ASI, dengan masih menghisap ASI, selama itu payudara ibu akan tetap melakukan produksinya. Apabila bayi berhenti meminta ASI, dengan cara berhenti menghisap maka payudara ibu pun akan berhenti memproduksi ASI.

Bila ASI mengandung Residu Pestisida (Dioxin, DDT, PCBs) dan bahan beracun, sejauh mana bahayanya bagi bayi?
Banyak ibu-ibu yang gelisah dengan adanya laporan yang menakutkan tentang tercemarnya selain susu sapi juga ASI oleh zat beracun seperti diozin atau logam berat yang berbahaya yang akan membahayakan kesehatan bayinya. Sebenarnya tidak ditemukan bukti-bukti secara kedokteran adanya bayi yang sakit karena disusui oleh ibu yang mengandung zat-zat beracun ini.

Para ahli yang mempelajari hal ini, termasuk antara lain Ketua Persatuan Dokter Anak Amerika Serikat, berulang-ulang meyakinkan masyarakat bahwa keuntungan menyusui jauh melebihi bahaya menyusui dengan ASI yang tercemar oleh zat-zat racun ini. Sehingga pemberian ASI tetap dianjurkan dalam keadaaan seperti ini.

Racun-racun ini sebenarnya lebih berbahaya pada masa kehamilan terutama pada blan ke-6 sampai ke-8 dibandingkan dengan pada waktu menyusui. Jadi bila didapatkan racun pada bayi, kemungkinan bayi mendapatkan racun ini sewaktu dalam kandungan lebih banyak dari pada dari ASI. Didapatkan bukti bahwa menyusui mungkin bahkan dapat memberikan perlindungan terhadap zat kimi yang beracun tertentu. Pada kecelakaan kebocoran reactor di Chernobyl, didapatkan bahwa kada zat radio aktif dalam ASI jauh lebih sedikit dari kadar ini dalam tubuh ibu. Keadaan ini membuat para ahli berkesimpulan, adanya suatu mekanisme tubuh tertentu yang menyaring racun sehingga didapatkan konsentrasi yang rendah dalam ASI.

Apa yang harus dikerjakan Ibu untuk mengurangi kontaminasi ASInya dengan zat beracun?

Ibu hamil atau menyusui, sebaiknya:

  1. Tidak memakan ikan air tawar yang diketahui terkontaminasi

  2. Kupas dan cucilah dengan benar buah-buahan dan sayur-sayuran terutama untuk menghindari akibat terkontaminasi residu pestisida

  3. Buang bagian lemak dari daging, ayam dan ikan, karena bahan kimi berbahaya umumnya melekat pada lemak

  4. Hinari produk-produk makanan yang banyak mengandung lemak mentega

  5. Jangan melakukan diet berat selama kehamilan dan menyusui, karena penurunan berat badan secara tiba-tiba dapat memobilisasi sel lemak dan melepaskan zat kimia berbahaya yang umumnya terikat pada lemak, sehingga mungkin akan mencapai tubuh bayi.

  6. Hindari pemakaian pestisida dan hindari tempat-tempat dimana diperkirakan banyak pestisida digunakan.


Menyusui adalah pemberian sangat berharga yang dapat diberikan seorang ibu kepada bayinya. Dalam keadaan sakit atau kurang gizi, menyusui mungkin merupakan pemberian yang dapat menyelamatkan kehidupan bayi. Dalam kemiskinan menyusui mungkin merupakan pemberian satu-satunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar