Selasa, 07 April 2009

Menyikapi anak berkelainan dengan bijak

Dalam perjalanan hidup manusia , setelah melalui masa perkawinan memiliki anak yang sehat secara fisik dan psikologis menjadi harapan berikutnya. Namun tidak semua harapan manusia bisa menjadi kenyataan. Sebagian kecil orang tua memiliki anak yang sejak kecil telah memiliki kelainan. Kelainan bawaan samacam itu bisa terjadi karena selama masa kehamilan kondisi kesehatan ibu secara fisik dan atau psikologis kurang terjaga, sehingga mengganggu dan menghambat perkembangan janin dalam perut ibu. Penyebab lain seringkali juga tidak diketahui dengan pasti, sehingga terjadi diluar jangkauan kemampuan manusia untuk mencegahnya.

Down Syndrom merupakan salah satu kelainan bawaan, yang terjadi karena ada kelainan kromosom pada saat kehamilan berlangsung. Selain terlihat dari penampilan fisik dengan ciri2 tertentu, juga disertai dengan keterbelakangan mental, dengan taraf mungkin berat, sedang atau ringan. Dengan keterbatasannya tersebut memang sulit diharapkan perkembangan yang normal/seperti anak yang lahir normal, walaupun berbagai upaya telah dilakukan. Perkembangan manusia sangat dipengaruhi oleh factor bawaan dan llingkungan. Faktor lingkungan berupa, stimulasi, bisa dalam bentuk nutrisi, dan perawatan; pengalaman dan latihan berupa pengajaran dan pendidikan yang diberikan di rumah, sekolah maupun masyarakat dalam arti yang lebih luas, akan membantu mengaktualisasikan potensi yang dimiliki sejak lahir. Sedangkan factor bawaan berupa potensi baik dalam bentuk ciri-ciri fisik, potensi kecerdasan yang akan menjadi batas dalam perkembangan manusia.

Dengan demikian dapat difahami bila potensi yang dibawa sejak lahir memang sudah terbatas , upaya yang dilakukan oleh lingkungan sekitar tidak akan pernah memberi hasil melebihi potensi yang dimiliki tersebut. Sebaliknya bila stimulasi dari lingkungan kurang diberikan potensi yang dibawa sejak lahir tidak akan teraktualisasi secara maksimal.

Dua hal ini perlu diketahui dan difahami oleh orang tua, khususnya yang memiliki anak berkelainan, karena mempunyai beberapa konsekuensi penting, yaitu :

  1. Bila anak berkelainan dituntut untuk berkembang sama dengan anak yang normal, padahal itu tidak mungkin , maka orang tua akan kecewa dan anak bisa stress.

  2. Bila orang tua menganggap anak berkelainan tidak bisa apa-apa dan tidak diberi stimulasi yang sesuai dengan kebutuhannya, maka perkembangannya tidak maksimal. Ini berarti mubazir.


Anak berkelainan tetap memerlukan stimulasi, tetapi perlu disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhannya, sehingga bila sekolahpun perlu sekolah khusus yang sesuai dengan keadaannya. Mengapa ? Bila anak berkelainan di sekolahkan di sekolah anak normal, berarti ia dituntut untuk melakukan tugas-tugas yang di atas kemampuannya, akibatnya akan sangat bermacam-macam dan yang pasti tidak positif. Beberapa akibat yang sering terjadi , yaitu :

  1. Setelah bertahun-tahun sekolah di sekolah anak normal tidak ada atau sedikit sekali hasil yang diperoleh.

  2. Seiring dengan bertambahnya usia tuntutan tersebut akan berdampak negatif pada perkembangan kepribadiannya, tampil dalam bentuk keluhan : mengganggu di kelas, mengalami kesulitan dalam bersosialisasi, karena rasa rendah diri, malu, takut, stress atau merasa tidak dimengerti.

  3. Kehilangan waktu dan kesempatan yang tepat untuk mengembangkan hal-hal yang perlu dan masih dapat dikembangkan.

  4. Orang tua kecewa dan anak menjadi stress, kondisi ini dapat memperburuk hubungan orang tua - anak bahkan mengganggu keharmonisan kehidupan keluarga.


Tentu saja berbagai akibat tersebut perlu dihindari dan dicegah, dengan cara a.l. :

  1. Orang tua perlu bersikap, berpikir dan bertindak rasional, menerima kenyataan dengan ikhlas, yakinlah bahwa seseuatu yang terjadi pada kita ada hikmahnya. Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk kita.

  2. Orang tua perlu mengenal keadaan anak secara baik, tahu persis batas-batas yang dimiliki anak dan hal-hal apa yang perlu dan masih dapat dikembangkan dari anak. Informasi ini bisa diperoleh melalui asesmen yang dilakukan oleh pakar yang punya kompetensi dan wewenang untuk melakukan asesmen tersebut.

  3. Dengan pengetahuan tentang kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak, orang tua mencari dan melakukan upaya yang tepat sesuai dengan kebutuhan anak agar perkembangannya optimal.

  4. Tentukan target dan rencana yang realistis sesuai dengan keadaan anak.


Sebaliknya hal-hal yang bisa menjadi kendala atau bahkan memperburuk keadaan anak, a.l. bila :

  1. orang tua tidak mau menerima kenyataan dan keadaan anak sebenarnya

  2. orang tua menuntut anak di luar batas kemampuannya

  3. orang tua tidak melakukan upaya yang tepat bagi anaknya


Untuk mencegah hal-hal dia atas, orang tuapun perlu melakukan upaya-upaya bagi dirinya , yaitu a.l.:

  1. Lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan meyakinkan diri bahwa Tuhan memberikan semua pada kita pasti dengan maksud dan hikmah yang dapat kita peroleh

  2. Tumbuhkan keikhlasan untuk menerima kenyataan ini dengan mencoba melihat dan mensyukuri betapa banyak kenikmatan yang telah kita peroleh. Dalam hidup ini memang tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapat.Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk kita.

  3. Perluas wawasan pengetahuan tentang kelainan anak, agar dapat melakukan upaya yang tepat.

  4. Tingkatkan kesabaran agar tidak menjadi emosi dan putus asa dalam mengajarkan sesuatu pada anak. Ikuti irama belajar anak yang berbeda dengan anak lain yang normal. Jangan menjadikan anak normal sebagai acuan.

  5. Upayakan agar semua anngota keluarga bersatu dan saling mendukung dalam menghadapi keadaan ini serta melakukan upaya yang konsisten.

  6. Yakinkan pemahaman bahwa anak adalah titipan Tuhan dan sebagai orang tua kita punya kewajiban untuk mengupayakan yang terbaik untuk anak kita.


Kesimpulan :

  1. Memiliki anak berkelainan bukan akhir dari segalanya

  2. Memiliki anak berkelainan bukan berarti kebahagiaan tidak mungkin dicapai. Anak akan bahagia bila haknya dipenuhi secara proporsional, sesuai dengan yang diperlukan dan dengan keadaannya.

  3. Tuhan menitipkan anak berkelainan pasti pada orang tua yang dinilai mampu merawatnya, tetapi kemampuan itu akan nyata bila didukung oleh kemauan/motivasi, upaya dan doa.
    Pada dasarnya tugas kita sebagai manusia memang berusaha dan berdoa, bila itu sudah kita lakukan dengan maksimal , maka bagaimana hasilnya itu adalah urusan Tuhan. Semoga kita semua diberi kekuatan fisik, mental dan iman untuk melakukan segala sesuatu yang menjadi kewajiban kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar