Selasa, 31 Maret 2009

Rendahnya Selera Makan si Kecil

Sudah mulai mendapat makanan padat, ada saja yang membuatnya menolak makan. Ada saja katanya, "dah kenyang," atau "gak mau, makanannya jelek," atau asyik saja bermain. Pokoknya membuat jengkel. Memberi makan anak, pasti banyak orangtua yang pilah-pilih. Harus bergizi sudah pasti, bervariasi, ada pula yang memperhatikan penampilannya bagus. Sudah begitu 'perfect' nya eh si anak adakalanya susah makan. Siti Ratna (30 tahun), pernah mengalaminya."Pernah karena lagi banyak kesibukan, saya nggak masak, cuma gorengkan telur mata sapi. Eh, Avin ngga mau makan. Katanya, "lauknya gak enak. Gak mau maem," ceritanya menirukan kata-kata putranya yang baru berusia 2 tahun.

 Buat anak soal makan memang gampang-gampang susah. Kalau lagi selera ya makan kalau tidak ta ogah. Menurut Dr. Inayah Budiasti, Msc., biasanya hal demikian terjadi pada anak yang sudah terbiasa dalam menu makannya. Bukan hanya bergizi tapi rasanya enak, tampilannya bagus.

Karena sudah terbiasa begitu sekali waktu mendapat makanan ala kadarnya, jadi emoh makan. "Tapi, hal seperti ini jangan diambil pusing. Tetap bujuk anak untuk makan," katanya. Tentu saja membujuk sambil menekankan kalau makanannya enak meski hanya telor mata sapi.

Ketika baru mulai makan makanan tambahan sampai usia 1,5 tahunan, anak sungguh menyenangkan. Gampang makan. Tapi selepas usia itu. Ada saja yang membuatnya menolak makan seperti putra Ibu Ratna. Menurut Asti, anak sulit makan tak selalu karena gejala sakit. Bisa saja karena faktor perkembangan. Periode usia 1,5 - 4 tahunan, mulai berkembang otonominya yang merupakan ciri khas batita. Merasa mandiri atau menunjukkan kemandiriannya. Misalnya, menolak makan itu.

Selain itu, fungsi intelektualnya sedang berkembang pesat. Menyebabkannya ingin mengeksplor apa saja yang ada di sekitarnya. Ingin memegang, meraba, ingin tahu seperti apa, bagaimana jika benda jatuh, dll. Aktivitas yang menarik tersebut, membuat anak malas makan. Ia beranggapan acara makan menghambatnya atau membuatnya harus berhenti mengeksplor kesukaannya.

Hal lain yang membuat si kecil enggan makan adalah karena ingatannya yang makin baik. Ia sudah tahu bahwa sekarang makan, nanti akan makan lagi, dan akan diberi makan lagi. Hal itu sudah tertanam dalam ingatannya. Sehingga anak beranggapan, kalau ia tak makan sekarang, toh nanti ada waktu makan lagi. Bagaimanapun makan itu penting. Jadi, selagi hanya menolak sesekali, atau volumenya berkurang, sih wajar saja. Tapi bila sering, jangan biarkan. "Orangtua harus win-win solution dong. Artinya, kalau lagi asyik main ya suapi saja sambil main. Kalau ia memang lapar biasanya anak mau saja. Jadi jangan menunggu anak minta makan."

Ganti Makanan
Bila anak sulit makan, banyak orangtua yang cenderung memberi apa saja yang diminta anak. Pikirnya "yang penting ada yang masuk dalam perut anak." Anak minta susu terus-terusan dituruti, atau bahkan orangtua memberi susu pengganti makanan, atau anak minta makanan-makanan kecil saja juga boleh. Sebenarnya, kata Inayah, itu bukan cara yang benar. Orangtua justru harus kritis. Sebab makanan yang diminta anak, biasanya camilan yang tampilannya menyolok, nilai gizinya bisa tak semenyolok kemasannya.
 

Dalam masa perkembangannya anak tidak hanya butuh protein tapi juga nutrisi lain seperti lemak dan serat. karena itu, bila hanya diberi susu saja, meski susu pengganti makanan, atau makanan camilan lainnya, tentu tak kan terpenuhi kebutuhan zat gizinya. "susu terutama susu pengganti makanan itu hanya untuk anak atau orang yang sakit. Kalau anak sehat tapi sulit makan penyelesaiannya bukan seperti itu," tegas Inayah.

Makanan cair berbentuk susu memang memenuhi kebutuhan semua kalori layaknya makanan padat. Namun tetap saja ada yang tidak tergantikan, seperti protein nabati dan serat. Selain itu proses makan juga merupakan proses belajar bagi rongga mulut untuk menggigit dan mengunyah oleh gigi dan lambung. "Kalau makanan cair terus bisa-bisa proses belajar itu terlewatkan. Akibatnya malah memperburuk pola makan anak. Lebih jauh anak bisa malnutrisi karena protein lemak yang mestinya digunakan untuk pertumbuhannya terpaksa dibakar karena bahan bakar utama energi seperti hidrat arang tidak suplainya," papar Asti panjang lebar. Jadi intinya, jangan dibiarkan.


Berawal dari Rumah

Ingin anak mudah makan atau pola makannya baik, awalilah dari rumah :


  1. Kebiasaan makan rutin.

    Biasakan waktu rutin, tidak berubah-ubah. Perubahan, misal lebih cepat mungkin anak masih kenyang. Atau lebih lambat, membuat anak ngemil, sehingga waktu Anda memberinya makan ia sudah merasa kenyang.

  2. Makan bersama di waktu tertentu.

    Misalnya, selalu makan pagi dan malam harus bersama. Biasanya menyenangkan anak, karena siang ia tak bersama ayah atau ibunya.

  3. Jangan ngemil mendekati waktu makan.

    Harus dihindari agar tak menjadu kebiasaan. Karena lambat laun membuat anak lebih menyukai camilannya dibanding makanan utamanya.

  4. Kesepakatan dengan orangtua lain.

    Ini batu sandungan terbesar apalagi bila buah hati berada di playgroupnya. Maka, buatlah kesepakatan hanya memberikan makanan yang sehat-bukan mie goreng tanpa campuran sayur dan daging misalnya-begitu juga pada makanan ringannya, pada pesta anaknya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar